Wadiah Yad Amanah dan Wadiah Yad Dhomanah Sebagai Landasan Transaksi Penitipan

  • Whatsapp
Wadiah Yad Amanah dan Wadiah Yad Dhomanah Sebagai Landasan Transaksi Penitipan

Wadiah Yad Amanah dan Wadiah Yad Dhomanah sebagai landasan transaksi penitipan. Pada kehidupan sehari-hari kita selalu bersinggungan dengan lingkungan sosial, dan tidak menafikkan bahwa sebenarnya kita sangat memerlukan bantuan dari pada orang lain, baik bantuan secara individual maupun bantuan secara kelembagaan.

Kita selaku pelaku ekonomi baik sebagai produsen, distributor maupun konsumen sangat memerlukan mitra dalam bertransaksi ataupun mengolah harta, serta memanfaatkan barang dan jasa. Suatu ketika kita akan memerlukan transaksi penitipan barang.

Read More

Bisa saja hal tersebut dikarenakan perlunya suatu jasa keamanan, maupun ketersediaan tempat yang cukup memadai untuk menempatkan barang, atau bahkan ada yang sengaja menitipkan hartanya pada suatu lembaga tertentu, untuk mendapatkan keuntungan daripada harta dia yang dimanfaatkan lembaga tersebut semisal pada perbankan.

Baca Juga: Asas-Asas Transaksi Ekonomi Dalam Islam

Jika niat untuk menggandakan harta dengan jalan menitipan harta, maka hal tersebut sangat bertentangan dengan prinsip Islam pada umumnya, yaitu meninggalkan riba atau sengaja menggandakan harta atau adanya keinginan tambahan dari harta yang dikembalikan.

Lain halnya jika lembaga tersebut memang memberikan suatu bonus dengan inisiatif sendiri, karena harta titipan orang lain atau nasabah digunakan untuk perputaran ekonomi yang disepakati. Harta yang dititipkan baik kepada Perbankan Syariah, maupun Koperasi Syariah, kedua lembaga tersebut memiliki hak untuk tidak memberikan bonus kepada nasabah, karena perjanjiannya hanya berupa Menitipkan uang kepada lembaga tersebut. Dalam dunia Islam hal ini disebut sebagai akad Wadiah. Dimana akad ini, bukan hanya dalam betuk uang pada Perbankan, maupun Koperasi Syaria.

Wadiah secara bahasa biasa disebut al wadau, yang berarti meninggalkan. Di mana hal itu sebenarnya adalah barang yang ditinggalkan oleh pemiliknya. Itu adalah arti menurut bahasa sedangkan menurut istilah al wadiah adalah suatu barang yang dititipkan oleh seseorang atau nasabah kepada suatu lembaga tertentu yang biasanya kebanyakan dilakukan oleh perbankan syariah atau koperasi Syariah di mana barang tersebut suatu saat akan diambl oleh nasabah, dalam prakteknya biasa  juga disebut tabungan pada bank syariah dan simpanan wajib atau sukarela pada koperasi Syariah. Orang yang menitipkan barang biasa disebut  Muwadi’ dan  seseorang atau lembaga yang dititipi barang disebut Mustauda’.

Landasan hukum Al Wadiah dapat kita lihat dalam surat al-Baqarah ayat 283 Yang artinya “Akan tetapi jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain, maka hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya (hutangnya) dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya”. Akad al Wadiah ada dua, yaitu Wadiah Yad Amanah dan Yad Dhamanah.

Akad al Wadiah, al Wadiah Yad Amanah dan al Wadiah Yad Dhamanah

1. al Wadiah Yad Amanah 

Wadiah Yad Amanah merupakan suatu akad dimana seseorang atau nasabah menitipkan barang maupun uang kepada seseorang atau lembaga tertentu, yang akan menjaga penuh barang atau uang yang dititipi agar tidak rusak ataupun hilang,  akan tetapi orang atau lembaga yang dititipi tidak akan mengganti barang tersebut apabila rusak maupun hilang.

Namun pada kenyataannya atau prakteknya biasanya suatu lembaga tertentu yang dititipi barang maupun uang oleh nasabah jika hilang akan menggantinya karena lembaga tersebut  diberikan fee atau upah atas barang yang dititipi  dan ada fungsi lain, semisal dalam hal transfer keuangan. Kita bisa melihat adanya potongan pada ATM.

Seorang nasabah yang menitipkan  uang kepada bank  dan koperasi baik itu konvensional maupun Syariah tetapi dengan niat dan tujuan  untuk mendapatkan tambahan daripada ada uang tersebut tanpa adanya akad tertentu dalam hal Syarikat  atau kerjasama transaksi ekonomi maka dipastikan itu adalah riba. 

Terkecuali apabila  bank syariah maupun koperasi Syariah memberikan bonus tertentu kepada nasabah tanpa adanya niat daripada nasabah tersebut karena  wadiah Yad amanah ini sebenarnya adalah seseorang ataupun nasabah tujuannya hanya benar-benar menitipkan uang tidak lebih agar  uangnya bisa aman. inilah yang perlu dipahami oleh masyarakat agar tidak ada timbul daripada kesalahpahaman sehingga setiap transaksi kita kepada perbankan syariah maupun koperasi Syariah harus dengan niat maupun akad yang sesuai agar tidak timbul daripada mengarah kepada riba.

2. al Wadiah Yad Dhomanah

Wadiah Yad Dhomanah merupakan suatu akad di mana seseorang atau nasabah menitipkan barang maupun uang kepada seseorang atau lembaga tertentu yang akan menjaga penuh barang atau uang yang ditutupi agar tidak rusak maupun hilang dan  seseorang ataupun lembaga tertentu tersebut diberikan wewenang untuk menggunakan barang  atau uang yang dititipi untuk digunakan kan transaksi lain sebagai perputaran roda ekonomi.

Baca Juga: Kerjasama Ekonomi Islam Menurut Ulama Fiqh dan Bentuk-bentuknya

Kita bisa melihat pada perbankan syariah maupun koperasi Syariah dalam penggunaan uang pada nasabah, uang tersebut digunakan pihak lain semisal untuk modal kerja. Modal kerja tersebut berkembanglah karena digunakan untuk membeli barang yang dijual kembali sehingga mendapat keuntungan.

Dari keuntungan itulah dibagi antara Pemilik modal (bank atau koperasi syariah) dengan orang yang menjalankan modal tersebut. Hal inilah yang menimbulkan akad baru pada orang lain atau nasabah lain, yaitu akad Mudharabah. Jika akad wadiah yad dhomanah lembaga keuangan syariah tidak punya kewajiban untuk memberikan bonus atas penggunaan uang tersebut, karena pada intinya nasabah hanya menitipkan uang, sedangakan Lembaga Keuangan tersebut diberikan wewenang dalam menggunakannya.

Jika seorang nasabah menginginkan uang tersebut selain aman untuk disimpan maka hendaknya menggunakan akad lain, yaitu mudharabah, atau dalam bahasa umumnya investasi inilah yang biasa disebut simpanan giro. Maka dari itu biasanya jika di Perbankan Syariah nasabah akan ditawari 2 akad, yaitu apakah nasabah akan memilih akan Al Wadiah atau akan Al Mudharabah. Dan jika dilakukan di Koperasi Syariah, biasa nya, nasabah akan ditawari Simpanan Sukarela, simpanan wajib (Wadiah yad dhomanah) sedangkan untuk Mudharabah, biasanya ada tawaran insvestasi.

Rukun dan Syarat Wadiah

Dalam bertransaksi kita juga harus mengetahui daripada ilmu atau hal-hal yang dapat diterimanya suatu amal maupun kegiatan muamalah. Adapun yang hendak kita perhatikan dari Transaksi ataupun akad Wadiah ini baik Yad Amanah ataupun Yad Dhomanah adalah sebagai berikut :

1. Rukun Wadiah Yad Amanah atau Yad Dhomanah

Menurut Ulama fiqh semisal Imam Hanafi, mengatakan bahwa rukun Wadiah hanyalah ijab dan qobul. Namun menurut jumhur ulama (Maliki Syafi’I , Hambali dan lainnya) mengemukakan bahwa rukun wadiah ada 3 yaitu:

a. Orang yang berakad (Muwaddi’ dan Wadii’)

Yaitu adanya 2 orang yang sedang melakukan akad, diantaranya ada oramg yang menitipkan barang atau uang yang disebut Muwaddi’ dan orang yang diberikan amanah untuk dititipi barang disebut Wadii’.

b. Barang  titipan (Wadiah)

Cukup jelas akad Al Wadiah, bisa dilakukan jika ada barang yang akan dititipkan, semisal barang maupun uang

c. Sighah, ijab dan kobul

Yaitu adanya hal yang diucapkan melalui lisan antara Orang yang menitipkan barang atau uang (Muwaddi’) dan Orang atau Lembaga yang dititipi barang (Wadii’).

2. Syarat Wadiah Yad Amanah atau Yad Dhomanah

Dalam hal ini persyaratan itu mengikat kepada Muwaddi’, wadii’,dan wadi’ah. Muwaddi’ dan wadii’ mempunyai persyaratan yang sama yaitu harus balig, berakal dan dewasa. Sementara wadi’ah disyaratkan harus berupa suatu harta yang berada dalam tangannya secara nyata, jelas dan tidak ada unsur keharaman.

Adapun syarat-syarat benda yang dititipkan adalah benda yang dititipkan disyaratkan harus benda yang bisa disimpan. Apabila benda tersebut tidak bisa disimpan, seperti burung di udara atau benda yang jatuh ke dalam air, maka wadi’ah tidak sah apabila  hilang, sehingga tidak wajib mengganti.

Baca Juga: Memahami Konsep Etos Kerja Dalam Prespektif Islam

Syafi’iyah dan Hanabilah mensyaratkan benda yang dititipkan harus benda yang mempunyai nilai dan dipandang sebagai maal (harta bernilai), maupun najis. Seperti anjing yang bisa dimanfaatkan untuk berburu atau menjaga keamanan. Apabila benda tersebut tidak memiliki nilai, seperti anjing yang tidak ada manfaatnya, maka wadi’ah tidak sah.

a. Syarat Shigat

Sighat adalah pengucapan antara Muwaddi’ dan Wadii’ yang berupa ijab dan qabul. Syarat shigat adalah ijab harus dinyatakan dengan ucapan atau perbuatan. Ucapan adakalanya tegas (sharih) dan adakalanya dengan sindiran (kinayah). Malikiyah menyatakan bahwa lafal dengan kinayah harus dengan disertai niat. Contoh : lafal yang sharih: “Saya titipkan barang ini kepada anda”. Sedangkan lafal sindiran “berikan kepadaku sepeda motor ini”. Pemilik motor menjawab: saya berikan motor ini kepada anda. Kata “berikan” mengandung arti hibah dan Wadiah (titipan).

b. Syarat orang yang menitipkan (Al Mudii’ atau Muwaddi’)

Syarat orang yang menitipkan adalah Berakal dan Baligh. Wadiah tidak sah apabila dilakukan dengan anak yang belum baligh. Tetapi menurut Hanafiah, baligh tidak menjadi syarat wadiah sehingga wadiah hukumnya sah apabila dilakukan dengan anak mumayyiz dengan persetujuan dari walinya.

c. Syarat orang yang dititipi (al-Muda’ atau Wadii’)

Syarat orang yang dititipi adalah Berakal dan Baligh. Syarat ini dikemukakan oleh Jumhur ulama. Akan tetapi, Hanafiah tidak menjadikan baligh sebagai syarat untuk orang yang dititipi, melainkan cukup ia sudah mumayyiz, sedangkan Malikiyah mensyaratkan orang yang dititipi harus orang yang diduga kuat, mampu menjaga barang yang dititipkan kepadanya.

Hukum Menerima Wadiah

Sedangkan bagaimana Hukum menerima benda titipan? Menurut keadaannya, hukum menerima Wadiah baik Yad Amanah ataupun Yad Dhomanah ada empat, yaitu:

1. Wajib

Bagi orang yang sanggup diserahi(dititipi) oleh orang lain dan hanya dia satu-satunya orang yang dipandang sanggup, maka hukumnya wajib. Begitu juga, apabila orang yang menitipi itu dalam keadaan darurat.

2. Sunnah

Bagi orang yang merasa sanggup diserahi suatu amanat, sehingga ia dapat menjaga barang yang diamanatkan dengan sebaik-baiknya.

3. Makruh

Bagi orang yang sanggup, tetapi tidak percaya terhadap dirinya sendiri, apakah ia mampu menjaga amanat itu dengan baik atau tidak, sehingga dimungkinkan ia tidak dapat mempertanggung jawabkannnya.

4. Haram

Bagi orang yang benar-benar tidak sanggup untuk diserahi suatu amanat dan barang yang dititipi mengandung unsur keharaman, semisal narkoba dan obat-obatan terlarang lainnya.

Demikianlah pembahasan dari pada akad Al Wadiah, baik Al Wadiah yad Amanah, maupun Al Wadiah Yad Dhomanah, semoga kita bisa membedakan keduannya, dan menjalankannya sesuai cara yang ditetapkan oleh para ulama’ sehingga niat dan kegitan kita benar dan diterima oleh Allah SWT.