Konsep Dasar Ekonomi Islam Di Indonesia

  • Whatsapp
Konsep Dasar Ekonomi Islam Di Indonesia

Konsep Dasar Ekonomi Islam merupakan alasan penting dalam eksistensi prilaku ekonomi Islam pada kehidupan umat. Konsep dasar itulah yang akan menjadi pondasi dalam mengaktualisasikannya.

Ekonomi Islam adalah pengetahuan yang berkaitan dengan masalah-masalah ekonomi maupun suatu kegiatan transaksi untuk mendapatkan hasil manfaat keuntungan dari suatu barang dan jasa yang dimana hal tersebut harus berdasarkan nilai-nilai ke-Islaman atau bersyariah.

Read More

Ekonomi Islam di Indonesia kini berkembang pesat, dan banyak masyarakat yang sudah mengetahui atau sadar akan halnya pentingnya dalam menjalakankan seluruh aspek kehidupan sebagaimana transaksi ekonomi harus menurut cara atau bernilai Islami.

Di Indonesia sendiri sudah hadir Lembaga-lembaga Keuangan Syariah, seperti Koperasi Syariah, Perbankan Syariah, Pegadaian Syarah, Lesing Syariah, dan lain sebagainya. Timbulnya Ekonomi Islam tentu tidak lepas dari adanya Konsep dasar Ekonomi Islam.

Konsep dasar Ekonomi Islam di Indonesia adalah suatu ciri dimana menjadi pemahama terbentuknya kegiatan ekonomi dengan menitik beratkan pada dasar yang menjadi acuan utama dalam berkegiatan dalam nilai-nilai Islam di negara Indonesia.

Baca Juga: Asas-Asas Transaksi Ekonomi Dalam Islam

Beberapa Konsep Dasar Ekonomi Islam di Indonesia

Berikut adalah beberapa konsep dasar Ekonomi Islam di Indonesia yang perlu kita pahami:

1. Konsep Akidah Sebagai Dasar Utama Ekonomi Islam

Rakyat Indonesia pada umumnya beragama Islam, dan tentu pemeluknya senantiasa memiliki nilai akidah yang hendak dipertahankan. Nilai akidah sangatlah penting dalam kehidupan sehari-hari, karena seseorang dengan tingkat iman yang tinggi akan mampu mengontrol segala perbuatannya, karena merasa diawasi oleh Allah SWT.

Apakah aktifitasnya sudah sesuai atau belum dengan apa yang diperintah oleh Allah SWT? Mana letak halal dan haramnya dan apa yang diinginkan oleh Sang Pencipta, pada setiap tindakan.

Tentu manusia yang memiliki iman yang kuat dalam menjalankan seluruh aspek kehidupan lebih menitik beratkan pada kesadaran akan ber-tauhid. Baik itu dalam melaksanakan suatu transaksi ekonomi. Inilah yang menjadi konsep utama dalam ber-ekonomi, dengan akidah yang dipegang seorang Muslim, tentu lebih menyesuaikan dengan apa yang dikehendaki oleh Sang Pencipta Alam semesta.

Selain itu pentingnya konsep akidah adalah menghindari diri dari pada meminta-minta kepada makhluk, sehingga cenderung akan lebih giat lagi dalam mencapai keuntungan, tentu dengan kerja keras.

2. Konsep Syariah

Adanya konsep Akidah di atas, seorang muslim yang merasa diawasi dalam berkegiatan Ekonomi, akan mempertimangkan segala tindakannya, apakah sudah sesuai dengan apa yang diinginkan Allah SWT, atau belum? Untuk itu acuan dalam menjalankan kegiatan ekonomi harus sesuai dengan panduan Tuhan, berupa Al Quran dan Al Hadits, dimana oleh para Ulama dipaparkan bagaimana berkegiatan ekonomi yang sesuai dengan akad atau tata cara yang benar.

Inilah yang menjadi konsep dasar terbentuknya ekonomi Islam di Indonesia setelah konsep dasar Akidah. Hal ini bisa kita lihat dalam akad yang ada pada lembaga-lembaga keuagan syariah, semisal Koperasi Syariah, Perbankan Syariah, Pegadaian Syariah, Lessing Syariah, dan lain sebagainya.

Akad–akad itu selalu menunjuk pada nilai syariah, seperti akad Ijarah, akad Wadiah, Murabahah, Musyarakah, Mudharabah, dan lain-lain.

3. Konsep Akhlak

Akhlak, norma ataupun Etika merupakan ruh daripada Ekonomi Islam itu sendiri, terutama bangsa Indonesia yang terkenal akan nilai-nilai norma yang luhur. Konsep Akhak merupakan salah satu konsep dasar ekonomi Islam di Indonesia, karena masyarakatnya yang penuh kebersamaan, gotong royong, meninggalkan kedzoliman, dan riba yang mencekik masyarakat itu sendiri.

Dari berbagai permasalahan itulah munculnya dasar ekonomi islam, dimana masyarakat mulai bangkit dari nilai-nilai luhur bangsanya sendiri yang berasaskan Pancasila. Nilai-nilai luhur Pancasila tidak lepas dari pada nilai akhlak dalam syariah Islam yang ada di Indonesia.

4. Konsep Tolong Menolong (Ta’awun)

Konsep tolong menolong diajarkan dalam sendi–sendi kehidupan berekonomi dalam Islam, bagaimana membantu masyarakat yang kekurangan modal, membantu memenuhi kebutuhan masyarakat tanpa riba, tanpa mendzolimi, membantu dalamm hal menyewakan barang yang berguna untuk masyarakat dengan nilai harga yang ringan, membantu dan bekerjasama mengelolah suatu usaha, bersama-sama, dimana pemilik modal dan pekerja sama-sama ikut bekerja.

Membantu menggadaikan barang yang memiliki nilai, karena kesulitan ekonomi. Membantu mencicil alat transportasi yang dibutuhkan untuk mencari nafkah, dengan cicilan ringan. Membantu menyerahkan kelebihan harta, yaitu harta zakat kepada masyarakat yang membutuhkan.

Itu semua adalah konsep dasar dari pada ekonomi Islam, yaitu sifat tolong menolong. Dan kita bisa bandingkan dengan konsep ekonomi Konvensional yang hanya mencari keuntungan sebesar-besarnya, tanpa mempertimbangkan adanya riba, tapa mempertimbangkan kerugian atau kebangkrutaan salah satu pihak.

Baca Juga: Kerjasama Ekonomi Islam Menurut Ulama Fiqh dan Bentuk-bentuknya

5. Konsep Keberkahan

Keberkahan berasal dari bahasa arab, yaitu Al-barakah, dimana memiliki arti pertumbuhan, pertamahan, kebaikan. Secara istilah keberkahan adalah konsep dimana yang berdasarkan nilai tambahan yang baik, diridhoi oleh Allah SWT.

Berkah tidak terpaku hanya kepada banyak atau sedikitnya apa yang didapatkan, akan tetapi keberkahan adalah nilai yang sudah sesusai dengan apa yang Tuhan inginkan, mencukupi, dan tidak mencelakakan diri.

Sebagai contoh harta yag tidak berkah walau banyak, dimana pemiliknya akan merasa terus kurang dengan harta yang sudah dia miliki, keinginan, menambah, menambah dan menambah lagi harta yang dia inginkan melalui usaha-usaha terlarang adalah bentuk ketidak berkahan.

Merasa gelisah setiap saat, takut-takut hartanya dicuri orang, hartanya rusak, kebakaran, hilang, dan lain sebagainya. Harta yang tidak berkah pun, biasanya pemilknya enggan untuk mengeluarkannya, baik infaq, shodaqoh maupun zakat.

Jika kehilangan sedikit saja harta maka dia akan panik, sakit, bahkan bisa gila atau bunuh diri. Akibat hati yang telah dikuasai oleh harta, dia akan disibukkan dengan mengurus harta, sehingga tidak sempat untuk beribadah kepada Allah SWT.

Begitupun dalam menjalankan ekonomi, atau sebagai pelaku ekonomi, kegiatannya tiada kebaikan atau keberkahan. Menjalankan riba, memakan harta anak yatim yang bukan haknya, menipu, mengurangi timbangan, menyembunyikan barang dagangan yang cacat, menimbun barang dagangan untuk dijual kembali dengan harga mahal saat barang dipasaran mulai berkurang, mencari harta lebih dengan jalan korupsi, memakan harta ‘amal dari masyarakat, baik dari amal masjid maupun amal bakti sosial.

Inilah Konsep dasar adanya Ekonomi Islam, kesadaran untuk mendapatkan harta yang bersih dari riba, diridhoi Allah SWT, dan dimudahkan bagi pelaku Ekonomi untuk menjalankan Ibadahnya dalam setiap saat dan keadaan.

6. Konsep Keselarasan

Keselarasan adalah merupakan cita-cita suatu bangsa, menghilangkan sikap egois, sikap fanatik kesukuan, ras dan Agama. Kesenjangan sosial maupun budaya. Pada hakekatnya semua manusia adalah sama di mata Tuhan, yang membedakan hanya amal dan ketakwaanya saja.

Pada zaman kolonial Belanda maupun sebelumnya, pada masyarakat ada sekat-sekat sosial yang sangat signifikan, antara tuan dengan hamba, antara pemilik tanah dengan buruh. Kala itu buruh maupun hamba hanya mendapat upah yang sangat minim, untung-untung mendapat segenggam beras untuk makan.

Mereka diperlakukan bak kelas bawah, yang bisa diperintah seenaknya, menyembah kepada tuan tanah, dipekerjakan tanpa memperhatikan kesejahteraannya. Itulah yang disebut zaman Feodal, dimana tuan dan hamba atau buruh dibedakan, tidak diselaraskan dalam hal kemanusiaan. Sedangkan dalam Islam, selalu menjaga keselarasan baik kepada manusia dan alam, sama-sama makhluk ciptaan Allah SWT. Sama-sama diberikan hak kesejahteraan, saling menghargai, dan saling memberi untung.

Bagi Alam pun demikian, menjaga keselarasan dan keseimbangan alam, menjaga kelestaarian hutan dan ekosistem darat dan laut. Jangan mentang-mentang kita menguasai suatu wilayah, dengan perusahaan yang kita pimpin seenaknya mengeruk kekayaan alam, atau membuang limbah sembaragan, membakar hutan tanpa memperhatikan dampak bagi hewan dan lingkungan. Konsep iniah yang salah satunya menjadi dasar Ekonomi Islam, karena pada hakekatnya Islam menyelaraskan kehidupan semua makhluk ciptaan Tuhan.

7. Konsep Sosial Budaya

Sosial Budaya adalah suatu pendekatan utama dalaam bertransaksi, kita bisa mengambil contoh pada Koperasi Syariah, dimana asas daripada Koperasi adalah asas Gotong Royong yang merupakan ciri khas sosial budaya pada masyarakat Indonesia terutama di daerah Pedesaan dan pedalaman.

Masyarakat Indonesia juga pada umumnya adalah masyarakat yang sangat erat dalam berinteraksi sosial dengan lingkungan sekitar, peka dengan keadaan disekitarnya. Nilai-nilai Kebudayaan yang menghasilkan ekonomi yang cukup baik, sperti makanan, tarian daerah, kerajinan tangan.

Sebagai contoh tarian bisa kita lihat ada tarian khas Aceh yang merupakan perpaduaan seni puisi, tabuh rebana, dan gerakan yang diadopsi dari budaya daerah dan nilai ke Islaman. Hal tersebut tentu memberi dampak Ekonomi bagi masyarakat asing dari luar daerah untuk berkunjung dan menyaksikan dipentas-pentar internasional. Dalam Islam nilai adat, sosial budaya bisa dipertahankan asal tidak menyalahi daripada syariat Islam yang ada. Maka Sosial Budaya inilah juga salah satu Konsep Dasar dari pada Ekonomi Islam yang muncul di Indonesia

8. Konsep Konstitusional Sebagai Dasar Menjaga Ekonomi Islam Pada Suatu Negara

Konsep Konstitusional ekonomi adalah Suatu Konsep yang berdasarkan arah pengambilannya dari hukum. Secara Konstitusional jelas pada historis-yuridis, kegiatan ekonomi Islam di Indonesia khususnya, diakui secara yuridis sejak lahirnya UU No. 7 Tahun1992 yang kemudian diubah menjadi UU No. 10 Tahun 1998 tentang perbankan.

Selanjutnya pada atahun 2008 ditetapkan 2 (dua) UU, yakni UU No.19 tahun 2008 tentang SBSN (Surat Berharga Syariah Negara) dan UU No.21 tahun 2008 tentang Perbankan Syariah. Dalam penjelasan UU Perbankan Syariah, dijelaskan bahwa tujuan pembangunan nasional, sebagaimana diamanatkan oleh Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, adalah terciptanya masyarakat adil dan makmur, berdasarkan demokrasi ekonomi, dengan mengembangkan sistem ekonomi yang bertumpu pada mekanisme pasar yang berkeadilan. Dengan adanya landasan huku itulah Konsep ekonomi Islam Indonesia bisa diterima dan dijadikan dasar dalam ber-ekonomi yang sesuai dengan nilai-nilai Islam.

Baca Juga: Prospek Kerja Ekonomi Syariah Era Milenial di Indonesia

Demikianlah konsep dasar daripada Ekonomi Islam yang ada di Indonesia, atau timbulnya akan kesadaran masyarakat Indonesia untuk menjalankan seluruh aspek Ekonomi berlandaskan nilai-nilai Syariah atau Islam sebagai jati diri Bangsa Indonesia.